Pola Hubungan Relasionalitas Hukum Islam, Hukum Adat, Dan Hukum Nasional Perspektif Antropologi Hukum

The Relational Relationship Pattern of Islamic Law, Customary Law, and National Law from a Legal Anthropology Perspective

  • Mawardi STIT Al Ibrohimy Bangkalan
Keywords: Hukum Islam, Hukum Adat, Hukum Nasional, Antropologi Hukum, Pluralisme Hukum

Abstract

Artikel ini mengkaji pola hubungan antara hukum Islam, hukum adat, dan hukum nasional di Indonesia melalui perspektif antropologi hukum. Dengan pendekatan interdisipliner, artikel ini menyoroti bagaimana ketiga sistem hukum ini saling berinteraksi, berbenturan, dan bertransformasi dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural. Penelitian ini menemukan bahwa hubungan antara hukum Islam, hukum adat, dan hukum nasional bersifat relasional dan dinamis, bergantung pada konteks sosial, budaya, dan politik yang ada. Hukum Islam sering berperan dalam ranah privat, terutama dalam hal perkawinan, warisan, dan ekonomi syariah, sedangkan hukum adat lebih berfokus pada nilai-nilai lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Hukum nasional, di sisi lain, bersifat formal dan kodifikatif. Meskipun terdapat potensi konflik antara ketiga sistem hukum, mereka juga dapat hidup berdampingan dalam mekanisme koeksistensi dan kadang mengalami kooptasi, di mana norma-norma adat atau syariat diadopsi ke dalam sistem hukum negara. Artikel ini mengemukakan pentingnya pendekatan holistik dan inklusif dalam merumuskan kebijakan hukum nasional yang mampu mengakomodasi keberagaman hukum lokal dan nilai-nilai agama, serta mengedepankan prinsip keadilan sosial dan hak asasi manusia.

References

Bedner, A., & Arizona, Y. (2020). Adat in Indonesian land law: A promise for the future or a dead end?. Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde, 176(2–3), 188–213. https://doi.org/10.1163/22134379-17602004

Bowen, J. R. (2003). Islam, law and equality in Indonesia: An anthropology of public reasoning. Cambridge University Press.

Fitzpatrick, D. (1997). Dispute and pluralism in modern Indonesian land law. Yale Journal of International Law, 22(1), 171–212.

Hooker, M. B. (1975). Legal pluralism: An introduction to colonial and neo-colonial laws. Clarendon Press.

Lev, D. S. (1998). Legal evolution and political authority in Indonesia: Selected essays. Kluwer Law International.

Merry, S. E. (1988). Legal pluralism. Law & Society Review, 22(5), 869–896.

Nurlaelawati, E. (2010). Modernization, tradition and identity: The Kompilasi Hukum Islam and legal practice in the Indonesian religious courts. Amsterdam University Press.

Roibin, R., Rahmawati, E. S., & Nurhayati, I. (2021). A model for acculturation dialogue between religion, local wisdom, and power: A strategy to minimize violent behavior in the name of religion in Indonesia. Journal of Southwest Jiaotong University, 56(1), 1-12.

Roibin, R. (2009). Relasi agama dan budaya masyarakat kontemporer. UIN-Maliki Press.

Salim, A. (2008). Challenging the secular state: The Islamization of law in modern Indonesia. University of Hawaii Press.

Santos, B. de Sousa. (2002). Toward a new legal common sense: Law, globalization, and emancipation. Butterworths LexisNexis.

Soetandyo Wignjosoebroto. (2002). Hukum: Paradigma, metode dan dinamika masalahnya. Elsam.

Tamanaha, B. Z. (2008). Understanding legal pluralism: Past to present, local to global. Sydney Law Review, 30(3), 375–411.

Von Benda-Beckmann, F. (2002). Who’s afraid of legal pluralism? Journal of Legal Pluralism, 47, 37–82.

Von Benda-Beckmann, F., & Turner, B. (2018). Legal pluralism, social theory, and the state. Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law, 50(3), 255–274.

Published
2024-04-30
Section
Article