Perbandingan Efektivitas Marchantia polymorpha dan Sphagnum spp. sebagai Bioindikator Timbal di Kawasan Lalu Lintas Padat Kota Palu
Comparison of the Effectiveness of Marchantia polymorpha and Sphagnum spp. as Lead Bioindicators in Heavy Traffic Areas of Palu City
Abstract
enelitian biomonitoring kualitas udara dengan bioindikator lumut semakin berkembang sebagai alternatif metode pemantauan konvensional yang umumnya membutuhkan biaya tinggi, peralatan canggih, dan tenaga ahli. Studi ini bertujuan membandingkan efektivitas dua jenis lumut, yaitu lumut hati Marchantia polymorpha dan lumut gambut Sphagnum spp., dalam menyerap logam berat timbal (Pb) pada lingkungan dengan tingkat pencemaran lalu lintas berbeda di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Penggunaan lumut dipilih karena kemampuannya menyerap polutan langsung dari atmosfer melalui permukaan tubuh tanpa adanya sistem pembuluh atau kutikula pelindung. Penelitian dilakukan dengan dua pendekatan lokasi. Marchantia polymorpha digunakan pada kawasan SPBU Pertamina Martadinata yang memiliki intensitas lalu lintas tinggi. Sementara itu, Sphagnum spp. ditempatkan pada kawasan lampu merah Jalan Suprapto, Besusu Tengah, yang merupakan titik akumulasi emisi kendaraan bermotor. Selain mengukur akumulasi timbal, penelitian ini juga menganalisis faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, kecepatan angin, curah hujan, dan arah angin untuk melihat pengaruh kondisi mikroklimat terhadap penyerapannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa M. polymorpha, dengan permukaan talus yang lebar, mampu mengakumulasi timbal secara efektif di lingkungan urban tropis yang terpapar polutan kendaraan. Di sisi lain, Sphagnum spp. memiliki sel hialin yang mampu menyerap air dan logam berat dengan lebih tinggi, sehingga responsif terhadap perubahan kelembaban dan kondisi mikroklimat. Temuan ini menegaskan bahwa kedua jenis lumut merupakan bioindikator efektif dengan keunggulan masing-masing, dan berpotensi digunakan sebagai metode biomonitoring yang murah, praktis, serta mendukung pengendalian pencemaran udara di kawasan perkotaan.
References
Basile, A., Sorbo, S., Loppi, S., & Paoli, L. (2022). Bryophytes as bioindicators of air pollution: A comprehensive review. Ecological Indicators, 141, 109064
Capozzi, F., Giordano, S., & Spagnuolo, V. (2016). Morphological traits influence the accumulation of airborne trace elements in mosses. Environmental Pollution, 218, 704–713.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2022). Laporan Kualitas Udara Perkotaan Indonesia. Jakarta: KLHK.
Prasetyo, D., Utami, L., & Wibowo, A. (2021). Kajian kualitas udara ambien di kawasan perkotaan padat transportasi. Jurnal Ilmu Lingkungan Indonesia, 19(3), 145–158.
Suryadi, I., Juherah, J., Rachmawati, S., Fitriani, N., Kahfi, M., & Basri, S. (2025). Exposure of volunteer traffic assistants to PM?.? from transportation in Indonesia: An environmental health risk analysis. Journal of Preventive Medicine and Public Health, 58(4), 379-387.
World Health Organization. (2021). WHO global air quality guidelines: Particulate matter (PM?.? and PM??), ozone, nitrogen dioxide, sulfur dioxide and carbon monoxide. WHO. https://apps.who.int/iris/handle/10665/345329
Wulan, R., & Yulianto, A. (2021). Lumut hati sebagai bioindikator pencemaran Pb di sekitar SPBU Surabaya. Jurnal Lingkungan Indonesia, 28(3), 155–162






