Analisis Pertumbuhan Awan Konvektif Berbasis Data Citra Satelit pada Kejadian Puting Beliung Tanjungpandan Kabupaten Belitung (Studi Kasus 17 Mei 2023)
Analysis of the Growth and Distribution of Convective Clouds Based on Satellite Image Data on the Tornado Event in Tanjungpandan, Belitung Regency (Case Study May 17, 2023)
Abstract
Puting beliung merupakan salah satu cuaca ekstem ditandai dengan sebuah fenomena angin berputar dengan kecepatan lebih dari 60-90 km/jam yang berlangsung sekitar 5-10 menit sebagai akibat adanya perbedaan tekanan yang besar pada area dengan skala kecil di sekitar awan cumulonimbus. Studi ini bertujuan untuk menganalisis kejadian cuaca ekstrem yang terjadi di Tanjungpandan dengan menggunakan citra satelit melalui aplikasi SATAID untuk mengetahui pola pertumbuhan awan konvektif yang menyebabkan terjadinya puting beliung. Penelitian ini menggunakan metode analisis suhu puncak awan sebelum, selama dan setelah kejadian putting beliung, mengamati karakteristik awan, mengkaji arah dan kecepatan pergerakan angin menggunakan data NWP dari satelit Himawari -9, data diolah dengan perangkat SATAID. Berdasarkan analisis hasil didapatkan suhu permukaan mengalami peningkatan sehingga memicu pemanasan yang mengakibatkan terjadinya penguapan masif. Hasil identifikasi citra satelit Himawari-9 menunjukkan adanya awan konvekif ditandai dari suhu puncak awan pada fase matang mencapai -57,40C dan kecepatan pergerakan awan sebesar 57 knot. Beberapa faktor tersebut mengindikasikan tanda-tanda terjadinya fenomena puting beliung.
References
Anam, AR &, and Sayful Amri. 2021. “Analisis Kejadian Angin Puting Beliung Menggunakan Citra Satelit Himawari-8 (Studi Kasus Kota Bogor. Jawa Barat 21 September 2021).” Jurnal Ilmiah Indonesia 6(2): 6.
Antaranews.com. 2023. “Bencana Angin Puting Beliung Rusak Belasan Rumah Di Belitung.” https://m.antaranews.com/amp/berita/3543849/bencana-angin-puting-beliung-rusak-belasan-rumah-di-belitung.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 2010. “Prosedur Standar Operasi Pelaksanaan Peringatan Dini Pelaporan Dan Diseminasi Informasi Cuaca Ekstrim.” : 1–16.
Febrian, Ade, and Syaiful Amri. 2023. “Analisis Citra Satelit Himawari-8 Terkait Kejadian Puting Beliung Di Kabupaten Bogor (Studi Kasus 02 November 2021).” JFT: Jurnal Fisika dan Terapannya 10(1): 34–39. doi:10.24252/jft.v10i1.26225.
Harsa, Hastuadi, Utoyo Ajie Linarka, Roni Kurniawan, and Sri Novianti. 2011. “Pemanfaatan Sataid Untuk Analisa Banjir Dan Angin Puting Beliung: Studi Kasus Jakarta Dan Yogyakarta.” Jurnal Meteorologi dan Geofisika 12(2): 195–205. http://mscweb.kishou.go.jp/.
Irawan, Amir Mustofa. 2013. “Respon Masyarakat Mali-Kalabahi Kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur Terhadap Peringatan Cuaca Ektrim BMKG Sebagai Langkah Awal Untuk Mengurangi Resiko Bencana.” 2(September): 1–14.
Kurniawan, T, M Pranata, and S Wibowo. 2020. “Pemanfaatan Teknologi Penginderaan Jauh Untuk Memprediksi Kejadian Cuaca Ekstrem.” Jurnal Penginderaan Jauh 4(36): 98–110.
Pratama, MJ &, and Mulya Aditya. 2022. “Pemanfaatan Data Citra Satelit Himawari-8 Untuk Menganalisis Kejadian Hujan Es Dan Kejadian Angin Puting Beliung (Studi Kasus?: Jangkat Kabupaten Merangin Dan Bencah, Kabupaten Bangka Selatan).” Jurnal Teknik 01(02): 111–20.
Puslitbang, BMKG. 2009. “Kajian Cuaca Ekstrim Di Wilayah Indonesia. Laporan Penelitian, Pusat Penelitian Dan Pengembangan, BMKG, Jakarta.”
Rohmah, Fina Nailur. 2024. “Statistik Bencana Puting Beliung 1 Dekade , Tertinggi Tahun 2020.” : 1–8. https://tirto.id/statistik-bencana-puting-beliung-1-dekade-tertinggi-tahun-2020-gWb9.
Setiawan, A. 2018. “Pemanfaatan Citra Satelit Dalam Analisis Cuaca Ekstrem Di Wilayah Tropis.” Jurnal Meteorologi dan Geofisika 1(42): 55–68.
Sudibyakto. 2018. Manajemen Bencana Di Indonesia Ke Mana? Yogyakarta: Gosyen Publishing. https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=tbtTDwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA6&dq=Buku+manajemen+bencana,+sudibyakto&ots=vDV4sWM35N&sig=BpcQhdPlG-vYtmQwqAcqWSYk4j0&redir_esc=y#v=twopage&q&f=false.
Suryani, D, and A Anwar. 2021. “Pemanfaatan Citra Satelit Untuk Analisis Cuaca Ekstrem Di Indonesia.” Jurnal Meteorologi dan Geofisika 2(45): 121–35.