Peran Tu'a Teno Desa Lungar dalam Proses Pengembangan PLTP Poco Leok di Kabupaten Manggarai
The Role of the Tu'a Teno of Lungar Village in the Development of the Poco Leok Geothermal Power Plant in Manggarai Regency
DOI:
https://doi.org/10.56338/jks.v9i8.11852Keywords:
Kuasa Mikro, Legitimasi Adat, Michel Foucault, PLTP Poco Leok, Tu'a Teno, Micro-Power, Customary Legitimacy, Michel Foucault, Poco Leok Geothermal Power Plant, Tu'a TenoAbstract
Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Poco Leok di Kabupaten Manggarai merupakan bagian dari kebijakan transisi energi nasional menuju pemanfaatan energi baru terbarukan. Implementasi proyek ini memunculkan dinamika sosial-politik di tingkat lokal, khususnya terkait peran lembaga adat dalam merespons pembangunan. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Tu'a Teno Desa Lungar dalam proses pengembangan PLTP Poco Leok dengan memfokuskan perhatian pada Tu'a Teno dari gendang yang mendukung proyek sebagai representasi fenomena yang diteliti. Penelitian menggunakan teori Kuasa Mikro Michel Foucault untuk menganalisis bagaimana relasi kuasa, pengetahuan, dan wacana membentuk dukungan masyarakat terhadap pembangunan. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dikembangkan melalui snowball sampling. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tu'a Teno memiliki peran strategis sebagai mediator sosial, pemberi legitimasi adat, serta penghubung antara masyarakat, pemerintah, dan pihak pengembang. Melalui mekanisme adat seperti lonto leok dan tabe gendang, Tu'a Teno memfasilitasi musyawarah, membangun komunikasi, serta memperkuat legitimasi terhadap keputusan yang dihasilkan secara kolektif. Sosialisasi proyek menjadi proses produksi pengetahuan yang membentuk pemahaman masyarakat mengenai pembangunan, kebutuhan energi, dan kesejahteraan. Dalam perspektif teori Kuasa Mikro Michel Foucault, kuasa bekerja secara produktif dan tersebar melalui jaringan relasi sosial, produksi pengetahuan, serta wacana pembangunan. Dengan demikian, penerimaan masyarakat terhadap pengembangan PLTP Poco Leok tidak hanya ditentukan oleh kewenangan negara, tetapi juga oleh legitimasi yang dibangun melalui struktur dan otoritas adat. Penelitian ini menunjukkan bahwa Tu'a Teno tidak hanya berperan sebagai penjaga adat, tetapi juga sebagai aktor yang memediasi kepentingan dan membentuk penerimaan masyarakat terhadap pembangunan.
ABSTRACT
The development of the Poco Leok Geothermal Power Plant (PLTP) in Manggarai Regency is part of Indonesia's national energy transition policy toward the utilization of renewable energy. The implementation of this project has generated socio-political dynamics at the local level, particularly regarding the role of customary institutions in responding to development initiatives. This study aims to analyze the role of Tu'a Teno in Lungar Village in the development process of the Poco Leok Geothermal Power Plant, with a particular focus on Tu'a Teno from gendang (customary clans) that support the project as the representation of the phenomenon under study. The research employs Michel Foucault's Micro-Power Theory to examine how power relations, knowledge, and discourse shape community support for development. This study uses a qualitative case study approach, with data collected through in-depth interviews, observation, and documentation. Informants were selected using purposive sampling and further developed through snowball sampling. Data were analyzed through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that Tu'a Teno plays a strategic role as a social mediator, a source of customary legitimacy, and a bridge between the community, the government, and the project developer. Through customary mechanisms such as lonto leok and tabe gendang, Tu'a Teno facilitates deliberation, strengthens communication, and reinforces the legitimacy of collectively agreed decisions. Project socialization functions as a process of knowledge production that shapes community understanding of development, energy needs, and public welfare. From the perspective of Michel Foucault's Micro-Power Theory, power operates productively and is dispersed through networks of social relations, the production of knowledge, and development discourse. Consequently, community acceptance of the Poco Leok Geothermal Power Plant development is determined not only by state authority but also by the legitimacy constructed through customary structures and authorities. This study demonstrates that Tu'a Teno serves not only as the guardian of customary institutions but also as an actor who mediates interests and shapes community acceptance of development.
References
Brisman, A., & South, N. (2019). Green criminology and environmental harms.
Bupu, M., dkk. (2024). Dimensi politik lingkungan dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) Daratei Desa Ulubelu Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada. Demokrasi: Jurnal Riset Ilmu Hukum, Sosial dan Politik.
Dinan, U. H., & Hidayati, N. (2021). Persepsi masyarakat terhadap eksploitasi panas bumi di wilayah kerja pertambangan Kaldera Rawa Danau. Jurnal Kommunity Online.
Foucault, M. (1972). The archaeology of knowledge. Tavistock Publications.
Foucault, M. (1977). Discipline and punish: The birth of the prison. Vintage Books.
Foucault, M. (1980). Power/knowledge: Selected interviews and other writings, 1972–1977 (C. Gordon, Ed.). Pantheon Books.
Hasan, N., dkk. (2023). Peranan tokoh adat dalam pelestarian dan pemanfaatan potensi budaya pada masyarakat Kampung Adat Kuta Tambaksari Kabupaten Ciamis. J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan).
Lating, M. Q., dkk. (2025). Perlindungan hukum terhadap masyarakat adat dalam pemberian penugasan survei pendahuluan dan eksplorasi (PSPE) panas bumi. PATTIMURA Law Study Review.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revisi). PT Remaja Rosdakarya.
Sauni, H., dkk. (2022). Energi geothermal dalam aturan, masalah lingkungan hidup dan solusi penyelesaian konflik di masyarakat. Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional.
Sugiyono. (2022). Metode penelitian kualitatif. Alfabeta.
Toda, D. N. (1999). Manggarai mencari pencerahan historiografi. Nusa Indah.
Verheijen, J. A. J. (1991). The Manggaraians: A guide to traditional life. KITLV Press

