Revitalisasi Kampung Adat Ruteng Pu’u sebagai Model Pembangunan Kolaboratif Berbasis Budaya di Kabupaten Manggarai

Revitalization of Ruteng Pu'u Traditional Village as a Model of Culture-Based Collaborative Development in Manggarai Regency

Authors

  • Hipolitus Demoris Ngambur Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Nusa Cendana, Jl. Adisucipto Penfui – Kupang – NTT
  • Frans Wilmat Muskanan Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Nusa Cendana, Jl. Adisucipto Penfui – Kupang – NTT
  • Yohanes Jimmy Nami Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Nusa Cendana, Jl. Adisucipto Penfui – Kupang – NTT

DOI:

https://doi.org/10.56338/jks.v9i8.11724

Keywords:

Revitalisasi Kampung Adat, Collaborative Governance, Pembangunan Berbasis Budaya, Kampung Adat Beo Ruteng Pu’u., Traditional Village Revitalization, Collaborative Governance, Culturebased Development, Beo Ruteng Pu’u Traditional Village.

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis revitalisasi kolaboratif Kampung Adat Beo Ruteng Pu’u sebagai model pembangunan berbasis budaya di Kabupaten Manggarai. Revitalisasi dilakukan sebagai upaya mengatasi rendahnya kunjungan wisatawan, keterbatasan fasilitas pendukung wisata budaya, menurunnya partisipasi generasi muda dalam kegiatan adat, serta tantangan modernisasi yang dapat memengaruhi keberlanjutan budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan dianalisis menggunakan Teori Collaborative Governance dari Ansell dan Gash (2008). Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi Kampung Adat Beo Ruteng Pu’u dilaksanakan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga adat, komunitas pariwisata, dan masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut berkontribusi terhadap pelestarian budaya, penataan ruang adat, peningkatan partisipasi masyarakat, serta pengembangan pariwisata berbasis budaya. Namun, proses revitalisasi masih menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan sumber daya, perbedaan kepentingan antaraktor, dan belum optimalnya keterlibatan generasi muda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tata kelola kolaboratif memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan revitalisasi kampung adat dan dapat menjadi model pembangunan berbasis budaya yang berkelanjutan.

ABSTRACT

This study aims to analyze the collaborative revitalization of Beo Ruteng Pu’u Traditional Village as a culture-based development model in Manggarai Regency. The revitalization was carried out to address low tourist visitation, limited cultural tourism facilities, declining youth participation in traditional activities, and the challenges of modernization that may affect the sustainability of local culture. This research employed a qualitative approach using a case study method and was analyzed through Ansell and Gash’s (2008) Collaborative Governance Theory. Data were collected through interviews, observations, documentation, and literature review. The findings show that the revitalization process was implemented through collaboration among the local government, traditional institutions, tourism communities, and local residents. This collaboration contributed to cultural preservation, improvement of traditional village management, increased community participation, and the development of culture-based tourism. However, several challenges remain, including limited resources, differences in stakeholder interests, and the low involvement of younger generations. The study concludes that collaborative governance plays an important role in supporting the successful revitalization of traditional villages and can serve as a sustainable model for culturebased development.

References

Ansell, C., & Gash, A. (2008). Collaborative governance in theory and practice. Journal of Public Administration Research and Theory, 18(4), 543-571.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Manggarai. (2024). Kabupaten Manggarai dalam angka 2024. Ruteng: BPS Kabupaten Manggarai.
Baut, P. S. (2018). Struktur sosial dan sistem budaya Manggarai. Kupang: Penerbit Ledalero.
Cahyanti, K. D., & Prayogi, L. (2023). Kajian evaluasi revitalisasi Kampung Betawi di Setu Babakan, Jakarta Selatan. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 18(2), 101-115.
Danisworo, M., & Martokusumo, W. (2002). Revitalisasi kawasan kota: Sebuah catatan dalam pengembangan dan pemanfaatan kawasan kota. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai. (2024). Evaluasi destinasi wisata budaya Kabupaten Manggarai. Ruteng: Pemerintah Kabupaten Manggarai.
Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai. (2025). Dokumen teknis program revitalisasi kampung adat Kabupaten Manggarai Tahun 2025. Ruteng: Pemerintah Kabupaten Manggarai.
Emerson, K., & Nabatchi, T. (2015). Collaborative governance regimes. Washington, DC: Georgetown University Press.
Emerson, K., Nabatchi, T., & Balogh, S. (2012). An integrative framework for collaborative governance. Journal of Public Administration Research and Theory, 22(1), 1-29.
Erb, M. (1999). The Manggaraians: A guide to traditional lifestyles. Singapore: Times Editions.
Fauziah, I., Naufal, M., Riswandi, M. S., & Ulhaq, M. J. (2023). Pemberdayaan budaya lokal sebagai aset di Kampung Wisata Prenggan Yogyakarta. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 9(1), 45-60.
Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. New York: Basic Books.
Jeltiung, A., Aliffiati, N., & Darmawan, R. (2025). Revitalisasi Kampung Adat Beo Ruteng Pu'u sebagai gerakan sosial-budaya masyarakat adat Manggarai. Jurnal Antropologi Indonesia, 46(1), 67-85.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2018). Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Kolly, Y., & Aryaningtyas, R. (2025). Kampung Adat Takpala: Studi pemberdayaan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budaya, 3(2), 90-104.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.
Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Republik Indonesia. (2017). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Smith, L. (2006). Uses of heritage. New York: Routledge.
Syaharuddin, & Palloan. (2025). Revitalisasi budaya Toraja melalui implementasi kebijakan pemerintah desa.
Throsby, D. (2001). Economics and culture. Cambridge: Cambridge University Press.
UNESCO. (2003). Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage. Paris: UNESCO.
Verheijen, J. A. J. (1967). The Manggaraians and their language. The Hague: Martinus Nijhoff.
Wallace, A. F. C. (1956). Revitalization movements. American Anthropologist, 58(2), 264-281.
Zakaria. (2023). Profil Kebudayaan Kabupaten Manggarai. Ruteng.

Published

2026-08-18