Studi Analisis Pengaruh Suhu Tanah terhadap Tahanan Pentanahan Menggunakan Elektroda Batang
Abstract
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh suhu tanah terhadap nilai tahanan pentanahan menggunakan elektroda batang. Pengukuran dilakukan selama 24 jam pada tiga hari berbeda, yaitu tanggal 10, 13, dan 14 Juni 2025, di lokasi rumah tinggal di daerah Ulak Karang, Padang. Data dikumpulkan setiap satu jam menggunakan earth tester dan alat pengukur suhu tanah dengan metode pengukuran tiga titik (fall-of-potential). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tahanan pentanahan relatif stabil, dengan fluktuasi yang cenderung mengikuti pola suhu harian. Penurunan tahanan pentanahan paling signifikan terjadi pada siang hari saat suhu tanah meningkat, walaupun secara umum pengaruh suhu tidak terlalu dominan. Nilai tahanan pentanahan tertinggi berada pada rentang 91 ? dan menghasilkan tahanan jenis tanah sebesar 207,64 ?m, yang masih melebihi standar ideal PUIL 2011. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun suhu berperan, faktor lain seperti kelembapan tanah dan jenis tanah lebih berpengaruh terhadap nilai tahanan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan optimalisasi sistem pentanahan agar sesuai dengan standar, seperti menambah elektroda atau menggunakan material peningkat konduktivitas tanah.
ABSTRACT
This study aims to analyze the effect of soil temperature on the grounding resistance value using a rod electrode. Measurements were conducted over 24 hours on three different days, namely on 10, 13, and 14 June 2025, at a residential location in the Ulak Karang area, Padang. Data were collected every hour using an earth tester and a soil temperature measuring device with the three-point measurement method (fall-of-potential). The results show that the grounding resistance value was relatively stable, with fluctuations tending to follow the daily temperature pattern. The most significant decrease in grounding resistance occurred during the day when the soil temperature increased, although in general the effect of temperature was not very dominant. The highest grounding resistance value was in the range of 91 ? and produced a soil resistivity of 207.64 ?m, which still exceeds the ideal PUIL 2011 standard. This indicates that although temperature plays a role, other factors such as soil moisture and soil type have a greater influence on the resistance value. This study concludes that optimization of the grounding system is required to comply with the standard, such as adding electrodes or using a soil conductivity enhancement material.
References
Daman, S. (t.t.). Sistem Pembumian Jaringan Distribusi (hlm. 167–184).
Hutauruk, T. S. (2005). Pengetanahan Netral Sistem Tenaga. Jakarta: Erlangga.
Latiefa, R. F. (2018). Pengaruh Kelembaban Tanah terhadap Tahanan Pentanahan Studi Kasus pada Gardu Induk Kemayoran 150 kV. Jurnal Universitas Negeri Jakarta, 3(1).
Nurdiana, N., & Nurdin, A. (2020). Pengaruh Kedalaman terhadap Tahanan Pembumian di Area Rusunawa Kampus Universitas PGRI Palembang. Jurnal Ampere, 4(2), 327–332.
Pfeiffer, J. C. (2001). Principles of Electrical Grounding. Pfeiffer Engineering Co.
PT PLN (Persero). (2012). Grounding Sistem. Jakarta: Jasa Pendidikan dan Pelatihan PT PLN (Persero).
Rich, A. (1983). Shielding and Guarding. Analog Dialogue, 17(1), 8–13.
Sembiring, J. P. (2022). Analisis Perbandingan Pengaruh Nilai Tahanan Pentanahan Berdasarkan Jenis Tanah, Kelembapan Tanah, dan Temperatur Tanah. Jurnal ICTEE, 3. Universitas Teknokrat Indonesia.
Stockin, D. R. (2014). McGraw-Hill's National Electrical Code 2014 Grounding and Earthing Handbook. McGraw-Hill Education.
Sudaryanto, S. (2016). Analisis Perbandingan Nilai Tahanan Pembumian pada Tanah Basah, Tanah Berpasir dan Tanah Ladang. JET (Journal of Electrical Technology), 1(1), 71–75.



