Hubungan Status Sosial Ekonomi dengan Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis di Wilayah Puskesmas Bongo 2

Authors

  • Riska Abdullah Program studi keperawatan, Institut Teknologi Sains dan Kesehatan RS dr. Soepraoen, Malang, Indonesia
  • Amin Zakaria Program studi keperawatan, Institut Teknologi Sains dan Kesehatan RS dr. Soepraoen, Malang, Indonesia

Keywords:

Tuberkulosis, Status Sosial Ekonomi, Keberhasilan Pengobatan, Putus Berobat, Pelayanan Primer

Abstract

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang keberhasilan pengobatannya dapat dipengaruhi oleh faktor klinis, pelayanan kesehatan, dan kondisi sosial ekonomi pasien. Penulisan ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara tingkat sosial-ekonomi dan efikasi terapi TB di wilayah kerja Puskesmas Bongo 2. Studi ini menggunakan desain observasional analitik retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder dari daftar pasien TB yang peka obat (drug-susceptible TB) untuk periode 3 Januari 2025 hingga 13 Agustus 2026. Setelah data dikonsolidasi dan kasus tanpa hasil akhir yang dapat dinilai dikeluarkan, sejumlah 63 pasien diikutsertakan dalam penulisan ini. Status sosial-ekonomi diklasifikasikan ke dalam kategori berpenghasilan rendah atau berpenghasilan menengah. Keberhasilan pengobatan dikategorikan sebagai "sembuh" atau "pengobatan selesai", sedangkan hasil yang gagal mencakup "penghentian pengobatan/hilang dari pemantauan (LTFU)" atau "kematian". Analisis menggunakan statistik deskriptif, tabulasi silang, dan Fisher’s Exact Test untuk menyelidiki korelasi antara status sosial-ekonomi dan efikasi pengobatan, serta menghitung odds ratio (OR) dan interval kepercayaan (CI) 95%. Selain itu, hubungan antara desil ekonomi dan efikasi pengobatan diperiksa menggunakan korelasi Spearman. Hasil penulisan memperlihatkan jika 42 pasien (66,7%) tergolong berpenghasilan rendah, sedangkan 21 pasien (33,3%) dikategorikan berpenghasilan menengah. Intervensi terbukti efektif bagi 56 individu (88,9%) dan tidak efektif bagi 7 individu (11,1%). Pada kelompok berpenghasilan rendah, 37 dari 42 pasien (88,1%) mencapai keberhasilan, sementara 5 pasien (11,9%) tidak; pada kelompok berpenghasilan menengah, 19 dari 21 pasien (90,5%) mencapai keberhasilan, dan 2 pasien (9,5%) tidak. Fisher’s Exact Test menghasilkan nilai p sebesar 1,000 dan odds ratio sebesar 1,284 (CI 95%: 0,227–7,246), yang mengindikasikan tidak adanya korelasi signifikan antara tingkat sosial-ekonomi dan efikasi pengobatan. Pemeriksaan lebih lanjut terhadap desil ekonomi juga tidak memperlihatkan adanya korelasi yang berarti (rₛ = -0,006; p = 0,965).Kesimpulan penulisan adalah status sosial ekonomi dalam kategori kurang mampu dan menengah tidak memperlihatkan hubungan yang signifikan dengan keberhasilan pengobatan pada pasien yang dianalisis.

References

Ferreira, M. R. L., Bonfim, R. O., Bossonario, P. A., Maurin, V. P., Valença, A. B. M., de Abreu, P. D., Andrade, R. L. P., Fronteira, I., & Monroe, A. A. (2023). Social protection as a right of people affected by tuberculosis: A scoping review and conceptual framework. Infectious Diseases of Poverty, 12, 103. https://doi.org/10.1186/s40249-023-01157-1

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Laporan Program Penanggulangan Tuberkulosis Tahun 2023. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Laporan Kinerja Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Tahun 2024. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Sensitif Obat di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Lee, H. K., & Lee, G. U. (2024). Factors related to self-care in Korean patients with tuberculosis: A systematic review and meta-analysis. Medicine, 103(39), e39920. https://doi.org/10.1097/MD.0000000000039920

Lolong, D. B., Aryastami, N. K., Kusrini, I., Tobing, K. L., Tarigan, I., Isfandari, S., Senewe, F. P., Raflizar, Endah, N., Sitorus, N., Pangaribuan, L., Simarmata, O. S., & Ariati, Y. (2023). Nonadherence to anti-tuberculosis treatment, reasons and associated factors among pulmonary tuberculosis patients in the communities in Indonesia. PLOS ONE, 18(8), e0287628. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0287628

Mubarok, M., Galistiani, G. F., & Hapsari, I. (2025). Peran sosio demografi sebagai faktor untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien tuberkulosis: Tinjauan naratif. PREPOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9(2). https://doi.org/10.31004/prepotif.v9i2.47122

Murziny, I. J. (2025). Pengaruh demografi, sosial ekonomi dan penyakit penyerta terhadap hasil pengobatan pada pasien tuberkulosis paru yang dirawat di rumah sakit: Studi tiga tahun di Rumah Sakit Kota Kendari, Indonesia. Medic Nutricia: Jurnal Ilmu Kesehatan, 14(4).

Nidoi, J., Muttamba, W., Walusimbi, S., Imoko, J. F., Lochoro, P., Ictho, J., Mugenyi, L., Sekibira, R., Turyahabwe, S., Byaruhanga, R., Putoto, G., Villa, S., Raviglione, M. C., & Kirenga, B. (2021). Impact of socio-economic factors on tuberculosis treatment outcomes in north-eastern Uganda: A mixed methods study. BMC Public Health, 21, 2167. https://doi.org/10.1186/s12889-021-12056-1

Portnoy, A., Yamanaka, T., Nguhiu, P., Nishikiori, N., Garcia Baena, I., Floyd, K., et al. (2023). Costs incurred by people receiving tuberculosis treatment in low-income and middle-income countries: A meta-regression analysis. The Lancet Global Health, 11(10), e1640–e1647. https://doi.org/10.1016/S2214-109X(23)00369-8

Saripah, I., Supriadi, S., Kamil, M., Pramudia, J. R., & Boriboon, G. (2025). The dynamics of family support and social challenges in the management of pulmonary tuberculosis patients: A case study in Bandung City. Media Penulisan dan Pengembangan Kesehatan, 35(1), 235–244. https://doi.org/10.34011/jmp2k.v35i1.2571

Widiyati, S., Hartati, L. E., & Nabiha, P. I. (2025). Study analysis of self-care patterns in patients with drug-resistant tuberculosis in Semarang City. Media Penulisan dan Pengembangan Kesehatan, 35(4), 1380–1390. https://doi.org/10.34011/jmp2k.v35i4.2831

World Health Organization. (2024). Guidance on social protection for people affected by tuberculosis. World Health Organization.

World Health Organization. (2025). Global tuberculosis report 2025. World Health Organization.

World Health Organization. (2025). Global tuberculosis report 2025: TB treatment coverage and outcomes. World Health Organization.

Yu, S., Moon, D., Jeong, D., Kang, Y. A., Lee, G. I., & Choi, H. (2024). Beyond reducing direct medical cost: Examining health outcomes in tuberculosis through a difference-in-differences analysis of South Korea’s out-of-pocket payment exception policy. Frontiers in Public Health, 12, 1380807. https://doi.org/10.3389/fpubh.2024.1380807

Published

2026-11-05