Logika Pengambilan Keputusan Petani Lahan Kering di NTT dalam Mitigasi Krisis Iklim: Perspektif Rasionalitas Subsisten dan Tata Kelola Kebijakan Adaptasi
The Logic of Decision-Making of Dryland Farmers in NTT in Mitigating the Climate Crisis: The Perspective of Subsistence Rationality and Adaptation Policy Governance
DOI:
https://doi.org/10.56338/jks.v9i7.11700Keywords:
Bounded Rationality, Kebijakan Adaptasi, Lahan Kering NTT, Safety-First, Local-Based Governance., Bounded Rationality, Adaptation Policy, NTT Dryland, Safety-First, Local-Based Governance.Abstract
Krisis iklim global memicu terjadinya anomali cuaca ekstrem berupa false start dan dry spell berkepanjangan sepanjang siklus hidrologi 2025–2026 di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Fenomena ini mengeksalasi kerentanan sosio-ekologis sistem pertanian lahan kering semi-arid. Artikel ini mengkaji struktur logika pengambilan keputusan para petani subsisten dalam memitigasi risiko iklim ekstrem melalui pertautan perspektif Sosiologi Ekonomi Agraria dan Ilmu Administrasi Negara. Menggunakan desain kualitatif deskriptif berbantuan analisis dokumen sekunder otoritatif dari instansi pemerintahan nasional dan daerah sepanjang periode 2025–2026, studi ini mengevaluasi titik bentur antara intervensi kebijakan pangan makro dengan respons adaptasi mikro di tingkat tapak. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan pola tanam intercropping multi-varietas, reintroduksi budidaya sorgum melalui teknik ratooning, serta kristalisasi hybrid knowledge (konvergensi data dasarian BMKG dan etnosains lokal) merupakan perwujudan dari konsep bounded rationality serta safety-first principle. Sebaliknya, evaluasi kebijakan publik mengindikasikan kegagalan program adaptasi seragam (one-size-fits-all) akibat patologi birokrasi dan asimetri informasi institusional. Penelitian ini merekomendasikan transformasi radikal tata kelola agraria daerah menuju kerangka local-based governance yang mengintegrasikan diskresi birokrasi lokal, kelembagaan adat, dan kepastian perlindungan hukum varietas lokal NTT.
ABSTRACT
The global climate crisis triggered extreme weather anomalies in the form of false starts and prolonged dry spells throughout the 2025–2026 hydrological cycle in East Nusa Tenggara (NTT) Province. This phenomenon has escalated the socio-ecological vulnerability of semi-arid dryland farming systems. This article examines the decision-making logic structural components of subsistence farmers in mitigating extreme climate risks through the intersection of Agrarian Economic Sociology and Public Administration Science. Utilizing a descriptive qualitative design supported by authoritative secondary document analysis from national and regional government agencies over the 2025–2026 period, this study evaluates the friction point between macro food policy interventions and micro adaptation responses at the field level. The analysis indicates that the implementation of multi-variety intercropping, the reintroduction of sorghum cultivation via ratooning techniques, and the crystallization of hybrid knowledge (the convergence of BMKG decadal data and local ethnoscience) manifest bounded rationality and the safety-first principle. Conversely, public policy evaluation indicates the failure of uniform adaptation programs (one-size-fits-all) due to bureaucratic pathology and institutional information asymmetry. This study recommends a radical transformation of regional agrarian governance toward a local-based governance framework that integrates local bureaucratic discretion, custom institutions, and legal protection guarantees for NTT local crop varieties.
References
Tanam 2025/2026. Kupang: BMKG Provinsi NTT.
Tersedia pada: https://staklimkupang.bmkg.go.id
Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2025). Rencana Induk Pengembangan Infrastruktur Wilayah Pulau Timor dan Kepulauan Nusa Tenggara Tahun 2024–2025. Jakarta: Kementerian PUPR. Tersedia pada: https:// bpiw.pu.go.id
Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2025). Strategi Nasional Adaptasi Pangan Lokal Berkelanjutan di Wilayah Semi-Arid Indonesia. Jakarta: Direktorat
Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN. Tersedia pada: https://pangan.brin.go.id
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2025). Laporan Tahunan
Evaluasi Kinerja Program Peningkatan Produksi Tanaman Pangan Lahan Kering dan Distribusi Input Pertanian. Kupang: Pemerintah Provinsi
NTT. Tersedia pada: https://
distankp.nttprov.go.id
Forum Pengurangan Risiko Bencana Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2026). Dokumen Rencana Kontinjensi Bencana Kekeringan Ekstrem dan Mitigasi Krisis Pangan Berbasis Komunitas di
NTT. Kupang: Sekretariat FPRB NTT. Tersedia pada: https://fprb.nttprov.go.id
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2025). Kalkulasi Agronomis dan Ekonomi Metode Ratooning pada Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor) sebagai Solusi Cekaman Air di Daratan Timor. Jakarta: Balitbangtan Kementerian
Pertanian. Tersedia pada: https:// litbang.pertanian.go.id
Scott, J. C. (1976). The Moral Economy of the Peasant: Rebellion and Subsistence in Southeast Asia. New Haven: Yale University Press.
Simon, H. A. (1997). Models of Bounded Rationality: Empirically Grounded Economic Reason. Cambridge: MIT Press.

