Hubungan Antara Lamanya Kontak Dengan Air Terhadap Kejadian Tinea unguium Dan Tinea pedis Pada Pekerja Di Sentra Industri Tahu Krapyak

-

Authors

  • Anggun Aulia Agil edisarwofamily Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.56338/jks.v9i7.11626

Keywords:

Jamur Kuku, Jamur Kaki, Lamanya Kontak Dengan Air, Pekerja Industri Tahu, Dermatofitosis

Abstract

ABSTRAK

Dermatofitosis merupakan infeksi jamur superfisial yang umum ditemukan di wilayah tropis seperti Indonesia, terutama pada tenaga kerja yang terpapar air dalam jangka waktu lama, seperti pekerja di sentra industri tahu krapyak. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi spesies jamur penyebab infeksi serta menganalisis hubungan antara lamanya kontak dengan air terhadap kejadian Tinea unguium dan Tinea pediis. Desain yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 31 pekerja yang dipilih melalui purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan kuesioner serta pemeriksaan laboratorium menggunakan KOH 20% dan kultur jamur menggunakan media Sobouraud Dextrose Agar (SDA). Hasil penelitian menunjukkan prevalensi Tinea unguium sebesar 32,3% dan Tinea pedis mencapai 41,9%. Spesies jamur paling dominan adalah Trichophyton rubrum (19,4%), diikuti oleh Trichophyton mentagrophytes dan Epidermophyton floccosum, serta ditemukan juga Aspergillus sp. dan cemaran bakteri. Berdasarkan jenis infeksi yang dialami, dari 31 responden ditemukan sebanyak 3 orang (9,7%) hanya mengalami Tinea unguium, 6 orang (19,4%) hanya mengalami Tinea pedis, dan 7 orang (22,6%) mengalami infeksi keduanya secara bersamaan, sisanya sebanyak 15 orang (48,4%) tidak terinfeksi kedua jenis infeksi tersebut. Hasil uji Chi-square menunjukkan lamanya kontak dengan air tidak berhubungan signifikan dengan Tinea unguium (p = 0,107), namun berhubungan signifikan dengan Tinea pedis ( p = 0,002). Oleh karena itu, upaya pencegahan seperti penggunaan alat pelindung diri (APD) yang layak serta membiasakan mengeringkan kaki setelah bekerja sangat diperlukan untuk menurunkan angka kejadian infeksi.

ABSTRACT

Dermatophytosis is a superficial fungal infection commonly found in tropical regions such as Indonesia, especially in workers exposed to water for long periods, such as workers in the krapyak tofu industry. This study aims to identify the fungal species causing the infection and analyze the relationshio between the duration of contact with water and the incidence of  Tinea unguium and Tinea pedis. The design used was an observasional analytic with a cross-sectional approach in 31 workers selected through purposive sampling. Data collection was carried out through interviews with questionnaires and laboratory examinations using 20% KOH and fungal culture using Sobouraud Dextrose Agar (SDA) media. The results showed the prevalence of Tinea unguium was 32,3% and Tinea pedis reached 41,9%. The most dominant fungal species was Trichophyton rubrum (19,4%), followed by Trichophyton mentagrophytes and Epidermophyton floccosum, and Aspergillus sp and bacterial contamination were also found. Based on the type of infection experienced, out of 31 respondents, 3 people (9,7%) only experienced Tinea unguium, 6 people (19,4%) only experienced Tinea pedis, and 7 people (22,6%) experienced both infections simultaneously, the remaining 15 people (48,4%) were not infected with both types of infections. The results of the Chi-square test showed that the duration of contact with water was not significantly related to Tinea unguium (p = 0.107), but was significantly related to Tinea pedis (p = 0.002). Therefore, preventive efforts such as the use of appropriate Personal Protective Equipment and getting used to drying  feet after work are very necessary to reduce the incidence of infection.

References

Almeida, T., Silvestre, A. J. D., Vilela, C., & Freire, C. S. R. (2021). Bacterial Nanocellulose toward Green Cosmetics: Recent Progresses and Challenges. International Journal of Molecular Sciences, 22(6), 2836.

Awaluddin, Waji, R. A., & Debit, Y. (2022). Identification of Dermatophyte Causes Tinea Capitis in Users of Hair Oil Made From WAX in Manggala District, Makassar. Jurnal Kedokteran Universitas Palangka Raya, 10(1), 28–32.

Elavarashi, E. (2017). Enzymatic and Non- Enzymatic Virulence Activities of Dermatophytes on Solid Media. Journal Of Clinical And Diagnostic Research.

Farihatun, A. (2018). Identifikasi Jamur Penyebab Tinea pedis Pada Kaki Penyadap Karet Di PTPN VIII Cikupa Desa Cikupa Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis Tahun 2017. Meditory?: The Journal of Medical Laboratory, 6(1).

Fatmawati, A., Suardi, S., Diyanah, D., & Pada, A. T. (2023). Kejadian Infeksi Jamur Penyebab Tinea pedis Terkait Higienitas Di Lingkungan Padat Penduduk kampung Nelayan. Jurnal Medika, 7(2), 61–69.

Febi, Z. (2020) Program studi diploma tiga teknologi laboratorium medis sekolah tinggi ilmu kesehatan perintis padang 2020.

Jati, N. O. I., Harlita, T. D., & Azahra, S. (2025). Gambaran Dermatofita Penyebab Tinea pedis Pada Pekerja Bangunan Di Kecamatan Palaran Kota Samarinda. 6.

Latifah, I., & Sulistiawan, N. (2019). Identifikasi Jamur Dermatophyta Penyebab Tinea Unguium Pada Kuku Kaki Petani Kelapa Sawit Berdasarkan Penggunaan
Alas Kaki Di Desa Pauh Menang Kecamatan Pamenang Kabupaten Merangin, Jambi. Anakes?: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan, 5(2), 189–197.

Leeyaphan, C., Chai?Adisaksopha, C., Tovanabutra, N., Phinyo, P., & Bunyaratavej, S. (2023). Prognostic factors for mycological cure in patients with onychomycosis caused by Neoscytalidium dimidiatum: A retrospective cohort study. Mycoses, 66(6), 497–504.

Maskan Bermudez, N., Rodríguez-Tamez, G., Perez, S., & Tosti, A. (2023). Onychomycosis: Old and New. Journal of Fungi, 9(5), 559.

Paramata, N. R. (2024). Isolation And Examination Of Nail Fungus (Onychomycosis) In The Nails Of Field Farmers. Jambura Nursing Journal, 6(1), 129–135.

Qanitat, A., Putri, N. E., & Irfani, F. N. (2025). Identifikasi Kejadian Tinea pedis Pada Pekerja Cuci Motor Dan Mobil Di Kelurahan Nogotirto Kabupaten Sleman. 6.

Rahman, M. A. A., & Sutomo, E. (2016). Sistem Pakar Identifikasi Penyakit Jamur Kulit Pada Manusia Menggunakan Metode Certainty Factor 5(3).

Romansyah, P. Y., Hartini, S., & Azzahra, S. (2023). Gambaran Jamur Trichophyton sp Pada Kaki Petugas Dinas Lingkungan Hidup Samarinda Seberang. Jurnal Analis Laboratorium Medik, 8(1), 12-18.

RTS.Gita Putri Enindra. (2024). Progam Kesehatan Kerja Untuk Keluhan Penyakit Jamur Tinea unguium Pada Kuku Kaki Pekerja Pabrik Tahu dan Tempe di Kalideres Jakarta Barat. Oshada, 1(2), 25–34.

Sari, J., & Saranani, S. (2024). Deteksi Jamur Dermatophyta Pada Kuku Kaki Petani Dengan Metode Kultur Di Desa Matanggorai Kecamatan Padangguni Kabupaten Konawe. 8(2).

Soedarto. (2016). Buku ajar parasitilogi kedokteran : Hand book of medical parasitology(S. Seto (ed.); 2nd ed.). 2016

Sudaryantiningsih, C., & Pambudi, Y. S. (t.t.). Kondisi Personal Hygiene Dan Sanitasi Pabrik Tahu Di Sentra Industri Tahu Kampung Krajan Mojosongo Surakarta Dan Pengaruhnya Terhadap Higienitas Tahu Yang Diproduksi. (11)

Sulviana, D., Basarang, M., & Fatmawati, A. (2020). Identifikasi Trichophyton mentagrophytes Pada Pegadang Ikan Penderita Tinea pedis Di Pasar Daya Kota Makassar. Jurnal Medika, 5(1), 19–24.

Warouw, M. W., Kairupan, T. S., & Suling, P. L. (2021). Efektivitas Anti Jamur Sistemik Terhadap Dermatofitosis. Jurnal Biomedik (JBM), 13(2), 185.

Zunelti, F. (2020). Identifikasi jamur dermatofita pada kuku perajin batu bata di kecamatan panti kabupaten pasaman timur. In Program Studi Diploma Tiga Teknologi Laboratorium Medis Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis Padang.

Published

2026-08-13