Pluralisme Beragama
Religious Pluralism
Abstract
Pluralisme keagamaan diartikan sebagai perspektif yang mengabsahkan keanekaragaman keyakinan sebagai realitas sosial yang wajib dihormati dalam kehidupan kolektif. Konsep ini memegang peranan strategis dalam mengonstruksi kerukunan dan perdamaian di dalam masyarakat multikultural. Menggunakan pendekatan studi literatur (library research), artikel ini bermaksud menganalisis konseptualisasi pluralisme, faktor-faktor determinan keberhasilannya, serta kendala implementasinya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pluralisme keagamaan berorientasi pada pengembangan sikap saling menghormati, dialog interaktif, dan sinergi antarumat beragama dengan tetap mempertahankan partikularitas identitas keagamaan tiap individu. Kendati berkontribusi positif terhadap integrasi sosial masyarakat majemuk, manifestasinya masih dihadapkan pada resistensi berupa fanatisme ekstrem, bias sosial, dan rendahnya kesadaran akan kebinekaan. Oleh sebab itu, akselerasi pendidikan inklusif, forum dialog antariman, dan pelembagaan nilai toleransi menjadi urgensi yang harus diupayakan demi menciptakan relasi sosial yang damai.
ABSTRACT
Religious pluralism is defined as a perspective that validates the diversity of faiths as a social reality that must be respected within collective life. This concept plays a strategic role in constructing harmony and peace within multicultural societies. Utilizing a literature review approach (library research), this article aims to analyze the conceptualization of pluralism, its determinant factors for success, and the obstacles to its implementation. The research findings indicate that religious pluralism is oriented toward developing mutual respect, interactive dialogue, and synergy among religious communities while maintaining the particularity of each individual's religious identity. While contributing positively to the social integration of a pluralistic society, its manifestation is still confronted with resistance in the form of extreme fanaticism, social bias, and a low awareness of diversity. Therefore, the acceleration of inclusive education, interfaith dialogue forums, and the institutionalization of tolerance values are urgent priorities that must be pursued to create peaceful social relations.
References
Faqieh, M. I. (2010). Fatwa dan canda Gus Dur. Kompas.
Fitriyani. (2011). Pluralisme agama-budaya dalam perspektif Islam. Jurnal Al-Ulum, 11(2), 326.
Hanik, U. (2014). Pluralisme agama di Indonesia. Jurnal STAIN Kediri, 25(1), 47.
Shihab, A. (2013). Islam inklusif. Dalam U. Sumbulah & N. Jannah, Pluralisme agama: Makna dan lokalitas pola kerukunan antarumat beragama (hlm. 184). UIN Maliki Press.
Shofan, M. (2013). Pluralisme menyelamatkan agama-agama. Dalam U. Sumbulah & N. Jannah, Pluralisme agama: Makna dan lokalitas pola kerukunan antarumat beragama (hlm. 36). UIN Maliki Press.
Sumbulah, U., & Jannah, N. (2013). Pluralisme agama: Makna dan lokalitas pola kerukunan antarumat beragama. UIN Maliki Press.
Thoha, A. M. (t.t.).
Wahid, A. (t.t.). Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama masyarakat negara demokrasi.
Zaainuddin, M. (2006). Filsafat ilmu: Perspektif pemikiran Islam. Lintas Pustaka.
Onghokham. (t.t.).