Relevansi dan Kesenjangan Prinsip Komunikasi Islam dalam Hadis Terhadap Perilaku Komunikasi di Era Digital

The Relevance and Discrepancies Between the Principles of Islamic Communication in the Hadith and Communication Behavior in the Digital Age

  • Erizal Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung, Jl. Ir H. Juanda No.95 – Tangerang Selatan – Banten
  • Meilia Arizka Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung, Jl. Ir H. Juanda No.95 – Tangerang Selatan – Banten
  • Lutfi Alisya Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung, Jl. Ir H. Juanda No.95 – Tangerang Selatan – Banten
  • Febi Inealisia Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung, Jl. Ir H. Juanda No.95 – Tangerang Selatan – Banten
  • Nayla Alifvia Yulistine Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung, Jl. Ir H. Juanda No.95 – Tangerang Selatan – Banten
  • Edi Amin Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung, Jl. Ir H. Juanda No.95 – Tangerang Selatan – Banten
Keywords: Komunikasi Islam, Hadis, Era Digital, Etika Komunikasi, Literasi Digital., Islamic Communication, Hadith, Digital Age, Communication Ethics, Digital Literacy.

Abstract

Penelitian ini membahas relevansi serta kesenjangan antara prinsip komunikasi Islam yang bersumber dari hadis dengan perilaku komunikasi masyarakat di era digital. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menganalisis hadis-hadis terkait komunikasi serta berbagai literatur komunikasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis mengajarkan prinsip komunikasi yang berlandaskan kejujuran (?idq), amanah, tabayyun, menjaga lisan, kesantunan, dan larangan menyakiti orang lain. Nilai-nilai tersebut memiliki relevansi yang tinggi dalam menghadapi berbagai tantangan komunikasi digital, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, cyberbullying, serta komunikasi yang impulsif. Namun, implementasi prinsip-prinsip tersebut masih menghadapi berbagai kendala, antara lain rendahnya literasi digital, lemahnya internalisasi nilai-nilai keagamaan, faktor psikologis pengguna media digital, serta budaya komunikasi yang mengutamakan kecepatan dan popularitas. Oleh karena itu, diperlukan penguatan literasi digital berbasis etika Islam serta peningkatan kesadaran individu agar komunikasi digital dapat berlangsung secara bertanggung jawab, beretika, dan selaras dengan ajaran Islam.

ABSTRACT

This study examines the relevance and gaps between Islamic communication principles derived from the hadith and people’s communication behaviors in the digital age. The method used is a literature review, analyzing hadiths related to communication as well as various works on digital communication. The results show that the hadith teach communication principles based on honesty (?idq), trustworthiness, verification (tabayyun), guarding one’s speech, politeness, and the prohibition against harming others. These values are highly relevant in addressing various challenges of digital communication, such as the spread of misinformation, hate speech, cyberbullying, and impulsive communication. However, the implementation of these principles still faces various obstacles, including low digital literacy, weak internalization of religious values, psychological factors among digital media users, and a communication culture that prioritizes speed and popularity. Therefore, it is necessary to strengthen digital literacy based on Islamic ethics and raise individual awareness so that digital communication can take place responsibly, ethically, and in harmony with Islamic teachings.

References

Al-Waqidi. (n.d.). Maghazi (Jilid II).
Arifin, M. (2021). Literasi digital dalam perspektif Islam. Jurnal Ilmu Komunikasi Islam, 8(1), 33–47.
al-Bukhari, I., & Muslim, I. (2013). Shahih Bukhari dan Muslim (M. F. A. Baqi, Trans.). Fathan Prima Media.
al-Bukhari, I., & Muslim, I. (2021). Shahih Bukhari dan Muslim (M. F. A. Baqi, Trans.). Penerbit Jabal.
Bungin, B. (2006). Sosiologi komunikasi. Kencana.
Effendy, O. U. (2003). Ilmu komunikasi teori dan praktik. Remaja Rosdakarya.
Ibnu Hisyam. (n.d.). As-Sirah (Jilid III).
Ibnu Majah. (2013). Sunan Ibnu Majah. Darul Haq.
Ilaihi, W. (2010). Komunikasi dakwah. Remaja Rosdakarya.
Joinson, A. N. (2001). Self-disclosure in computer-mediated communication. European Journal of Social Psychology, 31(2), 177–192.
Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. (2022). Laporan hoaks Indonesia. Kominfo.
Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. (2022). Status literasi digital Indonesia 2022. Kominfo.
Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo). (2022). Laporan tahunan hoaks Indonesia 2022. Mafindo.
Mulyana, D. (2015). Ilmu komunikasi: Suatu pengantar. Remaja Rosdakarya.
Muslim, I. (2019). Ringkasan Shahih Muslim (I. Al-Mundziri, Trans.). Penerbit Jabal.
Nasrullah, R. (2015). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media.
Pariser, E. (2011). The filter bubble. Penguin Books.
Rakhmat, J. (2011). Psikologi komunikasi. Remaja Rosdakarya.
Shihab, M. Q. (2013). Wawasan Al-Qur’an. Mizan.
Suler, J. (2004). The online disinhibition effect. CyberPsychology & Behavior, 7(3), 321–326.
Tasmara, T. (2002). Etos kerja pribadi Muslim. Gema Insani.
van Dijck, J. (2013). The culture of connectivity. Oxford University Press.
Zaini, A. (2020). Etika komunikasi Islam di era digital. Jurnal Komunikasi Islam, 10(2), 145–160.
Published
2026-08-03
Section
Article